Selasa, 13 Januari 2015

Islam Di “Negeri Menara Eiffel”


     Survei yang dilakukan sebuah tabloid di Perancis akhir tahun 2006 menyatakan  bahwa jumlah  warga negara asli perancis yang menjadi muallaf mencapai 60,000 orang. Mereka masuk Islam karena  takjub dan terkesan dengan agama ini yang mengajarkan tentang perdamaian dan kasih sayang serta mengagungkan toleransi dalam berbagai aspek kehidupan. Mayoritas dari mereka yang tertarik dengan ajaran islam merupakan pemuda kota yang berpendidikan dan modern. Survei ini juga menegaskan bahwa warga asli yang masuk Islam juga berasal dari kelas sosial dan profesi serta agama  yang beragam, seperti:   Budha, Katolik, atheis  dan lain- lain.

     Kelompok militer juga banyak yang masuk Islam, lebih dari 3% pemeluk Islam di Perancis adalah seorang tentara. Sebagaimana daerah “Aisun” sebuah wilayah di Perancis bagian selatan merupakan jumlah terbesar warga yang masuk Islam. Sekitar 1000 – 2000 orang di wilayah ini masuk Islam. Mereka masuk Islam lima puluh tahun yang lalu, ketika etnis Maghribi masuk ke Perancis, terdapat 2- 3 orang muallaf tiap pekan. Dari jumlah penduduk yang masuk Islam kelompok pemuda menempati jumlah teratas, laki-laki mencapai 83%, sedangkan wanitanya 17% saja.

     Faktor yang mempengaruhi  warga Perancis masuk Islam adalah, pertemanan, yaitu pertemanan warga muslim dengan non muslim. Umat Islam dikenal sangat toleran, memiliki akhlak yang baik, taat beribadah , tidak minum alkohol dan tidak melakukan tindak kejahatan pidana. Radio “Suara Perancis” memainkan peranan yang sangat penting di dalam proses masuknya warga Perancis kepada Islam. Direktur bagian Acara radio ini, Sami Abdus Salam mengatakan bahwa siaran radio ini sasarannya untuk komunitas muslim yang berada di masyarakat Perancis  berupa nasehat, arahan, dsikusi, dialog seputar permasalahan sosial dan keagamaan, selama delapan belas (18) jam secara live.

     Dari hasil siaran itu, banyak dari kalangan pemuda muslim, sekitar 99% tidak mau makan daging babi. Selain itu, bertambahnya orang yang masuk Islam setiap hari dari warga asli Perancis, karena mereka melihat keadilan Islam yang disiarkan melalui radio. Jumlah populasi umat Islam di Perancis lebih dari 6 juta orang, 10% dari total jumlah penduduk Perancis. Mereka mempunyai jumlah suara dalam pemilu sebesar 1,8 Juta suara. Mereka berasal dari 53 negara yang berbeda, dan 21 bahasa yang berbeda. Keturunan Al Jazair termasuk yang paling dominan.

     Sebuah kajian memprediksikan bahwa jumlah umat Islam akan semakin bertambah tiga kali lipat sampai tahun 2020 mencapai sekitar 20 juta warga muslim, disebabkan populasi mereka yang cepat dan besar, banyak pendatang muslim dan juga banyak warga asli yang masuk Islam. Oleh karena itu, warga muslim di sana tidak bisa diremehkan dan tidak mungkin diabaikan, lebih khusus mereka mewakili 17% dari pekerja di militer Perancis.

     Faktanya, para imigran yang mempunyai andil dalam penyebaran islam di Perancis kebanyakan berasal dari negara-negara jajahan Perancis yang mayoritas muslim yaitu Aljazair, Maroko dan Tunisia

     Pada bulan September lalu umat Islam patut bersyukur. Sebuah departemen baru dengan nama “L’art Islam” telah diresmikan menjadi salah satu departemen di Musee Du Louvre, museum terbesar dan bergengsi di Perancis, bahkan mungkin di dunia. Tidak tanggung-tanggung, yang meresmikanpun orang no 1 Perancis, yaitu presiden François Hollande yang dalam pidato sambutannya sangat menghargai Islam yang diakuinya pernah menjadi kiblat Barat di masa lalu.
Berbagai peninggalan seni di pamerkan di museum ini.  Potongan-potongan kaligrafi, bejana, piring,   vas, karpet dan lain-lain memenuhi ruangan yang di beri atap bergelombang indah ini. Tak ketinggalan sejarah penyebaran Islam juga dipaparkan melalui video dan skema.
Berbagai model tulisan “Bismillahi Rahmani Rahim” dalam huruf-huruf Arab muncul bergantian melalui video, menghiasi dinding di sisi tangga. Demikian pula cara membaca huruf-huruf Arab dalam Al-Quran.

     Meski pada kenyataannya isi departemen seni Islam ini agak janggal. Karena sebagian besar peninggalan seni yang diperlihatkan dan dipamerkan di museum tersebut  adalah keramik berbagai bentuk dengan hiasan gambar-gambar mahluk hidup. Padahal kita tahu bahwa Islam melarang penggambaran seperti itu. Banyak hadist yang menerangkan hal ini, diantaranya adalah:
Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Siapa yang membuat satu gambar di dunia, dia dibebani (disuruh) untuk meniupkan ruh pada gambar itu dan ia bukan peniupnya(tidak akan mampu meniup ruh untuk menghidupkan gambar tsb, red)”. (Muttafaqun ‘alaihi).

     Bahkan potongan-potongan patung kepala mirip yang sering ada di candi dan pura Budha dan Hindupun banyak dipajang di museum ini. Jelas, tempat ini bukan tempat yang tepat untuk belajar tentang Islam yang benar. Sama dengan tidak benarnya melihat Islam hanya dari pemeluknya, terutama bila pemeluk tersebut tidak mengerti ajarannya sendiri.
Namun bagi orang yang mau berpikir jernih, bagaimanapun keberadaan departemen baru ini pasti akan membuka mata mereka, bahwa  Islam sangat patut untuk dipelajari.
“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS.Al-Alaq(96):1-5).

     Tampaknya isu yang berkembang bahwa perlunya dibangun sekitar 700 ‘masjid’ di Perancis agar kaum Muslimin mengggunakan hak pilihnya  benar-benar didengar, dan tentu saja, atas izin-Nya, Perancis telah memiliki pemimpin  baru yang diharapkan lebih ‘menjanjikan’’. Sekedar info,  Perancis saat ini memang dikabarkan telah memiliki  ribuan masjid. Namun sebenarnya masjid tersebut kalau di tanah air kita hanya patut disebut musholla atau langgar. Masjid sebagaimana masjid yang kita kenal dapat dihitung dengan jari tangan.Contohnya adalah ‘masjid’ di jalan Myrha di Paris 18. Di sekitar masjid ini ada masjid lain yang berdiri tidak begitu berjauhan.  Sejak beberapa tahun belakangan, kedua masjid kecil ini tidak mampu memuat umat Islam yang ingin mendirikan kewajiban shalat Jumat. Akibatnya jamaahpun tumpah ruah ke jalan-jalan di antara dua masjid tersebut. Ini yang akhirnya membuat pemerintah mengeluarkan larangan shalat di jalanan. Sebagai gantinya pemerintah menawarkan sebuah bekas gudang besar untuk digunakan shalat Jumat. Sayangnya, lokasi yang ditawarkan tersebut jauh dari tempat tinggal Muslim di daerah Paris 18 ini. Demikian pula, masjid Agung Paris atau Grande Mosquee de Paris yang terletak di Paris 5.

     Tak dapat dipungkiri, perkembangan Islam di Perancis memang sangat pesat. Sama sekali tidak sebanding  dengan jumlah masjid yang ada. Masjid sebagai rumah ibadah jelas merupakan kebutuhan yang tak dapat diabaikan. Dengan alasan laicite, pemerintah tidak boleh memberikan bantuan keuangan untuk pembangunan peribadatan agama apapun. Untuk itu kaum Muslimin harus mencari dana sendiri.

     Itu sebabnya, setiap Jumat selalu ada himbauan dari masjid agar kaum Muslimin mau mengulurkan tangan. Suami saya menceritakan, di ‘masjid tenda’ tempat ia biasa mendirikan shalat, selalu ada saja jamaah yang menginfakkan dana yang sangat besar untuk pembangunan masjid ini. Tidak tanggung-tanggung, 1000 euro per orang.

     Namun demikian, tetap saja membangun masjid bukan hal semudah membalik tangan. Grand Mosque di Toulouse adalah salah satu contohnya. Sejak 2 tahun lalu masjid ini sebenarnya tinggal menanti  finishing setelah 5 tahun pembangunan yang tersendat-sendat.
Menurut seorang pemilik restoran Indonesia di kota tersebut,  penduduk setempat tidak mengizinkan adanya masjid di lingkungan mereka. Akibatnya masjidpun tetap dalam keadaan demikian. Tertutup bedeng tinggi menunggu dimakan rayap, Padahal masjid itu dibangun tidak jauh dari lokasi masjid lama yang terselip di antara pemukiman. Sementara sekitar 2000 hingga 2500 jamaah Jumat mengantri untuk shalat di depan masjid kecil yang hanya mampu memuat 5 % dari jamaah tersebut.
Lain lagi halnya dengan Masjid Agung Strasburg. Masjid ini baru terealisasi setelah 20 tahun lamanya menjadi proyek dan wacana. Bulan September lalu masjid yang saat ini menjadi masjid terbesar di Perancis ini memperingati satu tahun hari jadinya. Hebatnya, Manuel Valls, mentri dalam negri dan kebudayaan Perancis, hadir dalam acara tersebut.

     Namun, lagi-lagi  FN ( Front Nasional) partai politik pimpinan ayah dan anak Mari dan Marine Le Pen, tokoh yang dikenal sangat memusuhi Islam, mencoba mengangkat dan mempermasalahkan sumber dana yang digunakan masjid tersebut. 25 % dana pembangunan masjid adalah hasil infak umat Islam setempat. Sedangkan sisanya adalah bantuan dari pemerintah Maroko, Arab Saudi dan Kuwait. Ini yang dijadikan masalah, menurut Marine, dana bantuan yang diterima dari luar negri adalah bentuk campur tangan dan tekanan terhadap negara. Apalagi dana bantuan tersebut digunakan untuk pembangunan rumah ibadah. “  Ini adalah pengkhianatan terselubung terhadap prinsip negara yang sekuler “ , katanya. Namun Valls menolak pernyataan tersebut. “  Marine Le Pen tidak berhak sesumbar mendifinisikan apa itu sekuler. Ini adalah provokasi”, ujar menteri dalam negri tersebut.

     Bukan Marine Le Pen namanya kalau ia lalu surut menghadapi tanggapan negative sang mentri. Beberapa minggu kemudian, tersebar kabar bahwa masjid yang sedang dibangun di kota Poitiers  di duduki oleh sekelompok orang. Poitiers terletak di 340 km selatan Paris. Mudah ditebak, mereka adalah dari kelompok Le Pen. Lebih mengesalkan lagi, orang-orang ini berdiri di atap masjid yang belum selesai dibangun itu sambil membentangkan spanduk raksasa bertuliskan Charles Martel .  Charles Martel adalah tokoh terkemuka Perancis, kakek  Charlemagne salah seorang raja Perancis,  yang dianggap sebagai pahlawan besar karena keberhasilannya menghentikan penyebaran Islam ke pelosok  Eropa, Perancis khususnya. Peristiwa pahit ini terjadi pada tahun 732 M.
Dengan demikian, pro kontra terhadap kemajuan islam di negeri menara eifel tersebut akan terus bergulir seiring dengan berbagai polemik yang muncul. Maka, peran para cendekiawan muda dan persatuan umat muslim di sana sangat penting untuk terus melanjutkan dakwah islam di tengah sengitnya berbagai pro kontra yang ada.

Sumber: http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/islam-di-negeri-menara-eiffel.htm#.VLXxCi7dXLU

Tips Belajar yang Efektif ^_-

  
  Banyak pelajar yang mengeluh terhadap nilainya yang jeblok, hal ini tidak terlepas dari susahnya mencari cara belajar yang baik dan efisien. Kebiasaan kita belajar akan berdampak besar pada sukses atau tidaknya hasil pembelajaran.Ada yang biasa-biasa saja tapi sukses dalam prestasi belajarnya, ada yang memang giat dan rutin dalam belajar dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi yang pertama sangat jarang terjadi, justru kebiasaan belajar yang kedualah yang efektif. Inilah 10 tip dan trik sebagai panduan belajar efektif agar bisa meraih prestasi.



1. Jangan paksa belajar  pada satu kegiatan
Bagi warga belajar yang istiqomah (rutin) belajar, ia akana meluangkan waktu setiap hari meskipun sebentar untuk mengulang pelajaran, latihan atau sekedar membaca materi pokok pelajaran. Kebiasaan ini sangat baik, jika dilakukan setiap hari. Hal itu, lebih baik ketimbang belajar satu sesi menjelang ujian, atau semester. seperti kata pepatah: “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.”

2. Saat mau belajar memiliki rencana
Rencana belajar maksudnya adalah memiliki jadwal-jadwal belajar di luar sekolah. Buatlah jadwal belajar harian, mingguan jam demi jam. Lalu usahakan dengan tegas, dan tepati semua jadwal yang kamu buat. Bagi warga belajar yang tidak teratur, biasanya tidak sebagus yang memiliki rencana dan rutin belajar.

3. Tepati rencana belajar sebagai kebiasaan
Memiliki jadwal belajar itu bagus, yang terpenting dari itu adalah meneptai kegiatan jadwal belajar itu sesuai waktu yang ditetapkan dengan rutin dan menjadi kebiasaan. Misalnya, setiap malam jam 20.00 – 21.00 Wib. Nah, jika ini rutin dilakukan, maka kamu akan lebih fokus dan menikmati proses belajar sebagai bagian dari jam tubuh kamu seperti juga makan dan ibadah. Dampak dari semuanya, secara psikologis akan lebih tenang, fresh dan percaya diri serta lebih produktif.

4. Memiliki tujuan khusus di setiap kegiatan belajar
Tujuan khsusu dalam setiap sesi belajar itu maksudnya agar saat mau belajar sudah siap mau menyelesaikan problem apa, atau hendak memahami sesuatu yang dicari. Nah, dengan demikian, cobalah kamu mengatur tujuan belajar yang kamu lakukan itu setiap hari secara spesifik pada masalah yang telah disusun. Ini akan membantu sekali pada keseluruhan topi pelajaran yang diajarkan di sekolah.

5. Sekali-kali jangan menunda belajar
Kebanyakan pelajar (warga belajar) ada yang suka dan tidak suka dalam mata pelajaran. Dampaknya, jika kamu tidak suka dengan pelajaran tersebut akan mudah menunda belajar, dan lebih memilih kegiatan lain.
Nah, warga belajar yang berhasil, biasanya tidak pernah menunda sesi belajar meski sibuk sekalipun. Jika kamu melakukan penundaan, maka masalah akan bertumpuk-tumpuk dan ini menjadi penyebab kegagalan dalam belajar. Jadi, sekali-kali jangan menunda belajar!

6. Dahulukan pelajaran yang paling sulit
Karena pelajaran yang sulit butuh konsentrasi tinggi, usaha dan mental pelajar, maka dahulukan dan jadikan perhatian yang utama. Nah, jika kamu memulai dengan yang sulit-sulit, percaya atau tidak, ini akan mengantarkan kamu menjadi pelajar yang meningkat dan sangat akan sangat efektif bagi kelangsungan pembelajaran kamu.

7. Selalu mengulang catatanmu sebelum mulai mengerjakan tugas
Pastikan kamu mengulang atau membaca terlebih dahulu catatan yang dimiliki sebelum mengerjakan tugas. Karena itu, buatlah catatan yang baik selama mengikuti pelajaran di kelas. Karena hal ini akan membantu untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang harus diselesaikan. Jadi, pastikan kamu tahu persis bagaimana mengerjakan tugas utama itu dengan benar.

8. Jangan biarkan ada gangguan selama belajar
Hal yang bisa menenangkan itu perlu dicari. Karena itu, carilah tempat belajar yang aman dari gangguan. Sebab, saat kamu terganggu, maka ini akan mengganggu konsentrasi belajar dan ini sungguh mengganggu belajar kamu.

9. Ikuti belajar kelompok dengan efektif
Percaya atau tidak, belajar kelompok dengan efektif akan membawa banyak keuntungan. Seperti mendapat bantuan teman, menyelesaikan tugas dengan cepat, memahami konsep dengan tepat dan bisa berbagi pengetahuan dengan teman-teman lainnya. Masih ingatkah pepatah, “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala?”. Jadi, gunakan pepatah ini untuk belajar. Lalu mana kelompok belajar yang tidak efektif? yaitu mereka yang minim dari persiapan dan strategi belajar.

10. Catat ulang setiap tugas, dan materi setiap minggu terakhir
Ada pengalaman yang bagus dari kebiasaan para pelajar yang sukses yaitu mereka selalu setiap akhir pekan mengulang catatannya. Kenapa begitu? Karena dengan mengulang catatan setiap akhir minggu, maka satu sisi dia lebih menguasai pelajaran selama seminggu, dan akan mempersiapkan materi apa saja yang belum dikuasai pada minggu berikutnya sehingga kamu akan lebih siap menerima konsep-konsep baru dalam pelajaran pada minggu berikutnya.

Sumber : http://www.swaraunib.com/2012/10/tips-dan-trik-belajar-yang-efektif/#.VLXsvy7dXLV

Alat Pemisah Sampah Lahir Dari Semangat Coba-Coba





TEMPO.CO, Yogyakarta - Prototipe pembersih sampah sungai atau "Turbin Undershoot Penyaring Sampah" tidak lahir dari aktivitas sibuk yang membuat pusing layaknya persiapan Ujian Nasional. Karya yang mengantarkan tiga siswi SMAN 6 Kota Yogyakarta menyabet medali emas kategori green technology di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) 2013 di Malaysia pada awal Mei lalu itu lahir dari aktivitas gembira dan semangat coba-coba.

     Ketiga siswi yang kini duduk di kelas XII itu adalah Nurina Zahra Rahmati, Tri Ayu Lestari, dan Elizabeth Widya Niadianita. Niadianita mengaku tidak ada beban saat mereka merampungkan pembuatan alat itu. Alat itu mulanya juga hanya dibuat untuk memenuhi tugas karya ilmiah pelajaran muatan lokal riset saat mereka duduk di kelas XI. "Modal iseng sih, enggak ribet-ribet amat, kok," kata Niadianita.

     Dia bercerita, ide awal membuat karya untuk memecahkan solusi sampah di sungai merupakan saran guru. Saran itu disampaikan guru pelajaran muatan lokal riset di sekolahnya karena mudah menang kompetisi. "Tapi tidak ada target harus menang juga," kata dia.

     Saran itu mereka kembangkan lewat pengamatan langsung di sungai. Kebetulan, lokasi SMAN 6 Kota Yogyakarta hanya berjarak sekitar 300 meter dari aliran Sungai Code yang membelah kota Yogyakarta. "Di sana memang banyak sampah. Maklum dekat permukiman," ujar Niadianita.

    Mulanya hasil menggali informasi di internet yang dilakukan Niadianita dan dua rekannya tidak memuaskan. "Belum ada alat khusus yang canggih bisa memungut sampah dari sungai," ujar dia. Karena terdesak waktu ujian akhir sekolah di penghujung kelas XI, mereka akhirnya menemukan gagasan sederhana, yakni menggerakkan sampah ke penampungan dengan papan berjalan mirip eskalator. Tidak disangka, proposal karya ini ternyata lolos menjadi finalis IEYI 2013 di Malaysia. "Kami sudah kelas XII dan lama tak mengutak-atik alat ini," ujar dia.

     Tri Ayu Lestari, rekan satu tim Niadianita, menambahkan informasi lolosnya karya mereka ke IEYI Malaysia membuat mereka mulai serius menggarap alat ini. "Maklum, kalau menang, kan, hebat. Kelas internasional," ujar dia.

Ayu mengatakan, mereka kembali mengubek-ubek internet untuk mencari ide agar alat penyaring sampah sungai makin efektif. Konsep "turbin undershoot" akhirnya muncul. "Dengan perangkat ini makin banyak sampah terseret ke arah putaran turbin dan terangkut papan berjalan ke bak sampah," kata dia.

     Ketiga siswi ini pun mengebut penyempurnaan karya mereka sebulan penuh menjelang tenggat akhir penyusunan laporan karya ilmiah ke panitia IEYI. "Kami kerja banting tulang sekitar sebulan itu," kata dia. Hasilnya mengejutkan. Mereka memenangi medali emas kategori teknologi hijau. "Kami benar-benar enggak menyangka," ujar dia.

     Selepas memenangi kompetisi, gagasan untuk penyempurnaan alat itu makin menggebu. Ayu membayangkan apabila alat itu terpasang di banyak titik aliran sungai, masalah sampah penyebab banjir bakal tuntas. "Kami mulai berpikir alat ini bisa berguna," ujar Ayu.

Bagaimana Cara kerjanya? 

     Nurina menjelaskan, prinsip kerja alat ini adalah membersihkan sungai dengan menyaring sampah secara otomatis di berbagai titik alirannya. Prototipe Turbin Undershoot Penyaring Sampah berbentuk baki persegi panjang. Bahan utamanya alumunium yang dirancang membentuk kolam berisi air sebagai tiruan sungai. Panjangnya satu meter, lebar setengah meter, dan tinggi 20 sentimeter. Di dalam baki ada rangkaian mesin khusus yang menjadi miniatur penyaring sampah. Penempatannya diletakkan di posisi menghadang aliran sungai.

     Deretan bagian depan rangkaian alat penyaring sampah dimulai dengan dua turbin yang terpasang sejajar di bagian kanan dan kiri. Pemasangannya membentuk sebuah gerbang yang memenuhi sepertiga badan baki yang menjadi miniatur sungai. Dua turbin yang sebagian badannya tercelup air itu memutar searah dengan aliran sungai. Model aliran sungai di baki dibuat oleh penemu-penemu belia ini dengan cara manual. Mereka menggerakkan air ke arah turbin dengan tangan.

     Putaran turbin berfungsi menjaring sampah. Begitu sampah mendekati turbin, aliran air yang membawanya makin kencang. Sampah pun lekas berlari ke arah belakang kedua turbin. Di belakang turbin, sudah menghadang papan dari lempeng aluminium yang terpasang dengan kemiringan 80 derajat. Papan ini berjalan otomatis ke arah menjauh dari turbin.

    Cara kerja alat ini mirip eskalator yang mengangkut orang ke lantai lebih tinggi seperti di banyak mal. Papan berjalan ini bergerak karena sistem giginya terhubung dengan rantai yang menyambung ke turbin.

    Begitu sampah sampai di titik tertinggi dari gerak ekskalator miring tersebut, sampah akan jatuh ke belakang alat penyaring sampah. Di sana, bak sampah penampungan sudah menunggu. "Turbin di prototipe ini digerakkan oleh baterei listrik biasa," kata Nurina pada Tempo saat memamerkan alat itu di pameran Jogja Edu Expo, Sabtu, 19 Juli 2013 lalu.

    Ide brilian tiga peneliti belia ini tak berhenti. Niadianita, anggota tim lainnya, mengatakan alat tersebut bisa dikembangkan lebih canggih di dunia nyata. "Makin hemat energi apabila dilengkapi generator dan baterei penyimpan listrik yang memanfaatkan energi putaran turbin yang digerakkan derasnya aliran sungai," kata pelajar program IPS ini.

     Niadianita mengatakan inovasi juga bisa ditambahkan pada papan ekskalator yang menaikkan sampah. Jalur jalan papan berjalan yang membawa sampah bisa dibelokkan ke arah pinggiran sungai. "Bak sampah jadi lebih luas," ujar dia.

     Kecemerlangan karya tiga siswi yang kini duduk di kelas XII itu mendapat penghargaan internasional. Karya mereka berhasil meraih medali emas kategori green technology di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) 2013 di Malaysia pada awal Mei lalu.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/07/06/061494066/Alat-Pemisah-Sampah-Lahir-Dari-Semangat-Coba-Coba
http://www.tempo.co/read/news/2013/07/06/061494049/Begini-Cara-Kreatif-Memisahkan-Sampah-di-Sungai

Kulit kacang yang menghasilkan medali Emas





     LENSAINDONESIA.COM: Lagi, siswa SMA Surabaya kembali mengharumkan nama Indonesia, kali ini murid SMA Kristen Cita Hati, mampu raih emas di International Conference Of Young Scientist (ICYS), dibidang Ekologi, April 2013, bertepat di Bali.


     Murid bernama lengkap Mariska Grace ini, mampu kalahkan para puluhan pesaingnya dari berbagai negara hanya dengan menggunakan kulit kacang. Sekilas memang sepertinya sepele, namun Mariska mampu mencari keunggulan kulit kacang, yaitu pemanfaatan kulit kacang untuk menghilangkan tembaga didalam air.

     Cara Mariska mempraktekan proyek tersebut sangat simpel, pertama Mariska menimbang kulit kacang dan menimbang serta diambil beberapa Ons, setelah itu Mariska menumbuk kulit kacang, akan tetapi tidak sampai halus, sesudah itu hasil dari tumbukan kulit kacang dimasukan kedalam beberapa Mili Liter air.
“Memang praktek yang saya bawa di kompetisi tersebut sangat sederhana, bahkan bahan dari proyek yang saya praktekan adalah kulit kacang, yang dilihat orang tidak ada gunanya, namun meskipun simpel dan dengan sesuatu barang yang tidak berguna, mampu saya maksimalkan menjadi sangat bermanfaat,” ujar Mariska, siswi yang mengaku sempat dikarantina 3 kali saat ikuti kompetisi bertaraf Internasional.

     Pada saat ikuti kompetisi, Mariska sempat grogi, karena negara-negara yang cukup kuat dan terbiasa ikuti kompetisi ini juga hadir, namun meskipun grogi, Mariska akhirnya mampu keluar jadi pemenang.
“Saya sempat takut oleh beberapa negara, antara lain Belanda dan Polandia. Mereka adalah dua negara yang hampir setiap tahunnya menang, tapi saya yakin, bahwa proyek saya lebih bermanfaat dan mampu menarik perhatian juri,” ungkap siswi cantik kelas 11 ini.

     Meskipun Mariska mampu memenangi kompetisi tersebut, bukan berarti tidak ada kendala yang menghalanginya, ia sempat tidak paham saat ditanyai oleh salah satu juri.
“Saya sama sekali tidak paham pada waktu juri asal Belanda menanyai saya, karena juri tersebut bertanya menggunakan bahasa Belanda,” imbuhnya sambil tersenyum.
Dipertandingan tersebut, juri-juri yang berhak memberi nilai kepada peserta, diambil dari berbagai Negara, antara lain Kroasia, Brazil, Belanda, Ukraina, dan tuan rumah Indonesia.

Sumber : http://www.lensaindonesia.com/2013/04/24/kulit-kacang-menangkan-mariska-di-ajang-icys-2013.html

# Kegiatanku selama di SMAN 106 Jakarta #



  Praktikum Biologi "Replikasi DNA" ( XII-IPA 3)
  





      Akhwat Rohis Al-Faruq